Catatan Harian

Blog EntryNgeRokok lageee...Feb 26, '09 3:46 AM
for everyone

Nyempati belanja ke Indogrosir tadi, lalu mampir ke food court, wah penuh banget ga seperti biasa, banyak bisnismen lagi miting sambil makan kayaknya. Pesan stik ayam 2 buah untuk makan siang di rumah. Eh, kok nunggunya lumayan lamaaaa.

Ya, udah, mulai jelalatan memperhatikan orang-orang yang pada makan. Eh, ada cewek cantik bareng teman-teman cowoknya lagi makan. Seorang cowok ngeluarin laptop mini sambil makan dan menghisap rokok. Kayaknya bicara tentang kerja kantor, kelihatan program yang dibuka MS Word. Awalnya sih cuma memperhatikan yang pake laptop aja, aku kira food courtnya udah ada wifi, eh ternyata belum, hehehe.

Bolak-balik ke luar lihat troliku, masih ada ato engga, soale isinya lumayan berharga: minuman galon, pepaya, jeruk, jambu klutuk merah (rencana buat kudapan Ifa). Balik lagi ke konter makanan pesananku, eh kok belum jadi juga. Keburu masuk nih... :-( mana udah laper juga...

Pelirak-pelirik lagi..., walah, kok si cewek yang tadi ternyata njepit rokok juga di jarinya, cuma agak gimana-gimana gitu, rada maluw kali ya... :-) Wah baru saja habis makan dia, terus ngerokok gitu, pasti nikmat kali (menurutnya...)

Inilah salah satu emansipasi wanita saat ini, hehehe... OK lah, mudah-mudahan dia segera sadar ga ngerokok lagi. (Pesanku udah jadi, langsung cabut deh...)

Bagi teman-teman yang masih merokok, mari renungkan lagi pesan berikut ini,

Bukti akibat rokok:
- penyebab kematian terbesar didunia, yang sebetulnya dapat dicegah
- 4,9 juta orang meninggal akibat rokok th 2000, tahun 2009 udah berapa ya...
- Indonesia urutan 5 konsumsi rokok terbesar di dunia
- Total perokok di Indonesia kira-kira 62.800.000 orang (bisa dibayangkan berapa jumlah uang yang dibakar...)
- 70% perokok mulai sebelum usia 19 th

Penyakit akibat  rokok:
- gangguan pernapasan (belum tua udah bengek...)
- penyakit paru-paru (parunya penuh dengan bercak...)
- penyakit jantung (mati mendadak...)
- kanker (mati perlahan...)
- caries (napas bau, gigi ambrol...)
- penyakit lambung (mirip-mirip penyakit maag...)
- gangguan sexual (letoy deh...)
- gangguan pada ibu hamil (apalagi bayinya...kasihan dong...)

keuntungan berhenti merokok (beberapa poin juga dirasakan oleh pasienku):
- dalam waktu singkat, tekanan darah, nadi kembali normal dan napas lebih lega
- dalam beberapa hari, CO2 dieliminasi dari tubuh, nikotin sudah tidak terdeteksi di tubuh
- dalam beberapa minggu, sirkulasi darah tubuh membaik
- dalam beberapa bulan, gangguan pernapasan turun
- dalam beberapa tahun, setelah 5 tahun resiko serangan jantung turun 50% dan setelah 10 tahun resiko Ca paru turun 50%
- badan menjadi lebih fit
- penelitian terbaru menyebutkan tidak bermakna jika hanya mengurangi dosis merokok, tapi tetap harus menghentikan secara total

”MATIKAN ROKOK SEBELUM ROKOK MEMATIKAN KITA”

Note: Berhenti merokok itu hanya masalah niat...

pic dari sini dan sini


Blog EntryTetek bengek bermasyarakatFeb 22, '09 7:13 PM
for everyone
Hari Ahad kemarin, kami sekeluarga mengadakan acara syukuran pindahan ke rumah baru dan perkenalan ke warga setempat. Satu bulan setelah menjejakkan kaki di rumah baru, "resmilah" kami menjadi menjadi warga baru di Pedukuhan Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman. Seminggu sebelumnya aku juga mengikuti kumpulan (rapat) RT dan sudah sekilas juga memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan undangan ke warga untuk menghadiri acara syukuran tersebut. Alhamdulillah yang datang lumayan ramai sampai rumah kecil kami tidak muat oleh tamu sehingga harus juga menempati beranda.

RT kami memang strata sosialnya memang sangat beragam, mulai dari pengemis, pemulung, mahasiswa, polisi, pedagang, tukang, mantan danrem (sekarang staf kodam), insinyur, dan menteri, kurang satu yang belum...artis... :-D. aku sendiri melengkapi strata sosial sebagai dokter. Sedikit cerita lucu dari ibu-ibu tetangga yang intinya begini: "wah, mas sekarang sudah semua RT di RW kita ini ada dokternya. Jadi besok klo ada yang sakit tidak boleh berobat ke dokter di RT yang lain..." Hehehe, ada-ada aja.

Acara syukuran dibuat sederhana saja, duduk lesehan, tapi sama tetangga dipinjamin kursi dan tikar, karena punya kami tidak cukup, dan ternyata teras rumah juga tidak cukup menampung para tamu, jadilah harus ada yang duduk di kursi yang di letakkan di halaman rumah. Untung aku masih punya koleksi amplifier (pengeras suara) dan dua loudspeaker ukuran sedang, koleksi dan hasil hobi saat zaman mahasiswa dulu. Alhamdulillah cuaca juga tidak jadi hujan sehingga acara berlangsung lancar.

Format syukuran standarlah, sambutan oleh Pak Dukuh, Pak RT, aku sendiri sebagai perwakilan keluarga, dan terakhir diisi pengajian serta doa oleh Ustadz Didik Purwodarsono, Pimpinan Pondok Pesantren Takwinul Mubalighin Yogyakarta. Pak Dukuh memperkenalkan aku sebagai warga penuh di sini, sudah ber-KTP dan ber-KK sini, jadi semua hak dan kewajibannya harap ditunaikan selayaknya, termasuk jika ada tarikan-tarikan (sumbangan) seperti uang pembangunan, uang sosial dan lain sebagainya (waks...!! kok ininya yang ditekankan sih....). Pak RT juga kurang lebih sama, supaya saling menjaga toleransi (kebetulan Pak RT beragama Nasrani), beliau juga memaklumi bila aku mungkin sulit waktunya untuk intens berinteraksi dengan kegiatan masyarakat karena berprofesi sebagai dokter (engga juga sih Pak...coba aja kita lihat nanti). Dan paling menarik menurutku sesi pengajian, kebetulan diisi oleh seorang ustadz yang memang sudah terkenal dengan kepiawaiannya membawakan tema-tema kemasyarakatan, dengan suasana yang segar penuh humor, dan sebagian besar dalam bahasa Jawa. Sehingga suasana siang yang cocok buat tidur jadi hidup dan bersemangat. Ustadz Didik banyak memberikan wejangan tentang kehidupan bermasyrakat dan bertetangga. Beliau menyinggung juga tentang tanda-tanda rumah tangga yang diberkahi (sebagian besar tercantum dalam surat ke 65 Al Qur'an yaitu Ath Thalaaq ayat 2-3, silakan baca sendiri ya). Prinsip prinsip bermasyarakat dan bertetangga juga dijelaskan dengan sangat baik dan disertai dengan contoh-contoh yang mengena. Yang aku ingat dari beliau, sebagai anggota masyarakat, bila ingin hidup diridhoi Allah dan hidupnya bahagia ada 4 prinsip yang harus dijalani yaitu: 1. memberikan manfaat bagi sekitar, tidak menghitung-hitung apa yang diberikan, dan tidak menghitung-hitung apa yang diterima, berbuat seoptimal mungkin untuk kebaikan masyarakat dan tidak menyelaraskan dengan rezeki yang diterima. 2. senantiasa lapang dada, mudah memaafkan, dan tidak mudah terpancing emosi. 3. tidak egois dan membangga-banggakan diri di tengah masyarakat 4. membiasakan introspeksi diri untuk membiasakan berhati-hati dan mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Mudah-mudahan kami menjadi warga baru yang bisa memberikan banyak manfaat (bukan dimanfaatkan, hehehe...) banyak bagi warga sekitar. Rumah baru kami menjadi surga dan tempat menyenangkan untuk berkumpul dan beraktivitas.

Blog EntryGemas Dengan Pengobatan Alternatif!Feb 16, '09 6:39 AM
for everyone
Mumpung masih hangat-hangatnya cerita pengobatan alternatif, aku mau nimbrung nih...
Bukan karena takut bersaing loh... :-D Tapi berdasarkan bukti yang aku temui di tempat di RS-ku membuat aku berkesimpulan jangan pernah mencoba pengobatan alternatif tanpa pernah terlebih dahulu berkonsultasi dengan praktisi rasional alias dokter dan sejenisnya :-D

Memang tidak bisa kita menutup mata ini (baca: masyarakat lari ke pengobatan alternatif) karena sistem pelayanan kesehatan kita yang kurang pro rakyat (miskin) dan pola pikir masyarakat yang cenderung tidak banyak berubah mengenai kesehatan karena tidak ada sistem pendidikan kesehatan yang baik bagi bangsa ini.

Kasus yang paling sering di RS adalah pengobatan trauma tulang dan sendi. Pengobatan alternatif  yang sering dijadikan pelarian adalah ahli tulang alternatif alias dukun sakal putung atau apalah mungkin ada yang namanya agak berbeda di daerah lain.

Sangat miris sekali beberapa hari yang lain aku menerima pasien dengan trauma patah tulang 7 bulan yang lalu dan dibawa ke sakal putung, ga tahu tuh diapain di sana, tahu-tahu persendian tumbuh benjolan sebesar bola sepak. Wah, gadis cantik berusia 17 tahun tersebut datang dengan perdarahan di sekitar benjolannya tersebut setelah jatuh lagi di kamar mandi...

Kebetulan ada radiolog (dokter radiologi) dan ortoped (dokter bedah tulang) yang standby, "Wah...begini nih, kasihan sekali." "Mmhh, apa nih Dok? osteosarkom (tumor ganas tulang) ya?" "Apalagi klo bukan...." "Innalillahi...."

Jadilah keluarga pasien cuma pasrah dan sangat bersedih, dan mungkin menyesal telah terlambat memberikan pertolongan medis dari awal. Akhirnya pasien kami rujuk ke RSUP Dr. Sardjito untuk mendapatkan penangan yang komprehensif. Semoga Allah memberikan "mukjizat" kepada dirimu ya dik....hiks...hiks...

pic dari sini

Blog EntryKampanye No Puyer, Menyesatkan!Feb 16, '09 3:31 AM
for everyone
Entahlah, siapa yang lebih dahulu memulai kampanye anti pemakaian obat sediaan bubuk (puyer) ini. Dari awal memang sudah aneh saja melihat alasannya yang mengada-ada dan terkesan ada motif bisnis yang melatarbelakangi kampanye ini.

Sayangnya kampanye No Puyer ini sudah sangat menyebar di jagat internet beberapa tahun terakhir, dan di saat terakhir ini malah menjadi booming di media massa elektronik alias dunia pertelevisian dan media massa cetak alias koran.

Aku awalnya udah ga begitu "care" karena sangat kental kesan no evidence based medicine yang relevan dan substansial terhadap kampanye ini. Apalagi dengan jargon lain "Obat Puyer Membahayakan" justru ditangkap oleh orang awam sebagai sesuatu yang sangat menakutkan dan menjadi salah kaprah. Beberapa hari sebelum ini aku  mengikuti seminar yang di adakan oleh sebuah subbagian Ilmu Kesehatan Anak FK UGM (almamaterku), ketika ada peserta menanyakan tentang kampanye puyer ini. Di jawab oleh seorang senior spesialis anak: terlalu berlebihan, bukan puyernya yang salah, tetapi bagaimana prosedur dan etika peresepan obat dan mekanisme pembuatan puyer tersebut. Apalagi sekarang untuk konteks Indonesia tidak banyak obat tunggal  dalam sediaan non puyer, misal sediaan sirup yang bisa diperoleh.

Aku hanya menghimbau teman-teman jangan termakan kampanye no puyer yang menyesatkan ini. Sebagai panduan bagi orang tua ketika berobat ke dokter, jangan takut ketika dokter memberikan puyer. Tapi yang penting perhatikan obat apa saja yang diberikan, fungsinya, cara minumnya, dan reaksi sampingnya. Jika perlu mintalah salinan resep sehingga bila kontrol atau ke dokter lain, dapat dilihat riwayat pengobatannya.

Berikut aku lampirkan beberapa link bantahan terhadap kampanye No Puyer ini, dan beberapa link berisi tips bila harus menerima resep sediaan puyer:

Perdebatan Soal Puyer Tidak Pada Substansinya

Kontroversi Puyer, Membuat Masyarakat Bingung

YLKI: Konsumsi Obat Puyer Masih Dilematis

Puyer Dilarang, Obat Anak Bisa Mahal

IDI : Sesuai Prosedur, Obat Puyer Tak Masalah

-----------------------------------------------------------------------------
Klo gitu aku ikut-ikutan kampanye ah... :-)

Puyer?? Siapa Takut!!

pic dari sini

Blog EntryKangen MP - Postingan awal tahunJan 19, '09 3:33 AM
for everyone
Mohon maaf tidak hadir ke hadapan teman-teman MPers beberapa waktu lamanya, cieee....
Iya, benar, bukan apa-apa, selain sibuk bangeeet, dan yang jelas banyak pikiran, termasuk memikirkan tentang tragedi kemanusiaan di Palestin.

Apa lagi sih yang aku pikirkan, kok berat sekali sepertinya! Benar kok memang berat, beraaat sekali... :-D

Hal pertama yang membuat pikiran sangat berat kenapa aku memutuskan tidak posting di MP, terkait dengan tragedi kemanusiaan tersebut, ga sanggup rasanya berleha-leha di depan laptop, sementara banyak nyawa melayang begitu saja, nyawa anak-anak lagi. Diri ini tidak bisa berbuat banyak, sedih...sedih... Sempat juga temanku telepon, "Do, mau berangkat ke Palestin ga?". Tercekat juga aku mendengarnya. "Ingin sih sebenarnya, ada sponsor ga??" spontan aku jawab. Hari ini juga ada tawaran lagi mau berangkat ke sana. Ga tau lah...berkecamuk pikiran ini.... selain banyak PR pribadi yang belum kelar, aku juga masih banyak utang...katanya klo mati masih berutang, amalnya tidak bisa diterima, hiks...hiks...

Hal kedua yang membuat aku belum segera posting ketika awal tahun baru, adalah aku belum menemukan sebuah berkas penting terkait "rancangan rencana hidup" atau tepatnya keinginan-keinginan dalam hidup ini. Berkas itu aku dan istri tuliskan di sebuah kertas saat pelatihan manajemen keuangan keluarga yang pernah kami ikuti. Inginnya sih, aku mau mengevaluasi komitmen yang kami tuliskan dulu setelah pergantian tahun ini.

Mengapa berkas itu belum bisa diketemukan (atau mungkin memang sudah masuk tempat sampah). Yah, karena di akhir lalu dan awal tahun ini kami sekeluarga juga bersiap-siap pindah rumah lagi... Dan ini pindah rumah untuk kali kelima sepanjang pernikahan kami. Kisah kami tentang pindah-pindah rumah bisa dibaca di sini. Alhamdulillah, pindahan kelima ini kami sudah menempati rumah sendiri, hasil mengemis ke bank. Iya, bank membelikan rumah itu untuk kami, dan kami mencicil setiap bulannya, tentu dengan keuntungan yang telah disepakati. Nama akadnya akad jual beli atau Murabahah.

Jadi hal ketiga yang membuat aku terlalu banyak mikir alias stres, sehingga jadi "malas" posting, terkait erat dengan pembangunan rumah kami.

Hal keempat adalah kelelahan fisik terkait jadwal kerja yang sering berubah secara mendadak beberapa bulan terakhir ini, karena beberapa teman sejawat banyak yang cuti, sehingga aku harus beradaptasi ulang dengan jadwal baru. Huuuh..huuuh.... :-)

Hal kelima terkait dengan job-job tambahan yang cukup menyita waktu dan pikiran, padahal ga dibayar loh, cuma beramal aja...

Hal terakhir, tentu saja tentang proses kepindahan kami itu sendiri, sampai hari ini, sudah hari kelima, sejak hijrah besar-besaran ke rumah baru, masih kayak kapal pecah saja, berantakan gitu deh...

Mudah-mudahan bisa menyusul dengan postingan dan foto-foto terkait hal-hal di atas.

Hal yang "menghibur" antara lain adalah tentang perkembangan anak kami, Ifa dan perihal kelulusan istriku yang diterima sebagai PNS.

Gambar dari sini

Blog EntryTIPS - Mosquito huntingNov 19, '08 10:58 PM
for everyone
Aku termasuk orang yang rada sebel sama nyamuk. Apalagi di musim hujan ini, luar biasanya jumlah nyamuk membuat agak parno juga, secara aku sudah pernah kena gejala demam dengue. Apalagi ada Ifa yang masih sangat mungil, ga tega harus digigt nyamuk. Padahal juga udah dikasih kelambu, dipasangi obat nyamuk elektrik 24 jam non stop, eh malah nyamuknya kayaknya udah kebal gitu. Maka tercetuslah keinginan berburu nyamuk. Karena aku sendiri termasuk malas dengan kegiatan 3M (menguras, menutup, menimbun). Jadilah harus ditambah dengan M yang lain yaitu Membunuh...hehehe....

Ada banyak cara untuk membunuh nyamuk yaitu:
  • Dikeplok pake kedua tangan
  • Digampar ke dinding
  • Dipencet pake jari
  • Dll lah...
Nah, aku jadi teringat dengan cara hunting nyamuk waktu masih kecil dulu. Daripada pake raket setrum yang dijual dan rada berbahaya itu. Aku pake cara tradisional yang cukup ampuh untuk memburu nyamuk. Tahu kan...hehehe, iya pake sebuah piring lebar yang dioles minyak goreng secara merata, tipis-tipis aja, setelah itu klo ada nyamuk yang lewat, ya tinggal di kibasin ke arah si nyamuk, dengan mudah si nyamuk akan nempel di piring, menggelepar sebentar kemudian tewaslah si nyamuk... klo mau lebih ekstrim lagi bolehlah dicampur potas dikit, hehehe...

Awal percobaan kemarin, dalam waktu 15 menit sudah bisa memburu 20-an ekor nyamuk, lumayan kan...

Blog Entry(Seharusnya) Berbahagialah penderita AIDS...Nov 16, '08 6:02 PM
for everyone
Satu lagi pasien pria dengan infeksi HIV meninggal hari ini di RS tempatku bekerja. Umurnya masih sangat muda, 30 tahun. Sangat berat ketika harus kuterangkan ke sang bapak tentang penyakit  anaknya yang mengantarkannya ke pintu maut tersebut. Stigma tentang penderita AIDS memang sangat berat, keluarga yang awalnya merasa cukup bersedih dengan kejadian itu akhirnya juga merasa sedang terkena aib yang sangat besar. "Sudah banyak orang yang tahu belum, dok?" sela bapaknya dengan cemas. "Jangan khawatir, pak, privasi pasien tetap kita jaga, hanya saya, perawat di sini, dan bapak yang tahu. Selanjutnya nanti terserah bapak bagaimana mau bicaranya dengan keluarga.", kataku berdiplomasi.

Memang komplikasi AIDS dengan hadirnya penyakit oportunis pada pasien ini sudah termasuk berat, sudah terjadi infeksi pada otaknya yang mempengaruhi kejiwaannya, dan infeksi pada organ vital lainnya. Cuma sayangnya, baru saat mondok ini saja dia diketahui terinfeksi HIV. Yah, sungguh sayang...

Kenapa aku katakan sangat disayangkan?
Seperti teman-teman ketahui, masa inkubasi (masuknya penyebab penyakit sampai saat kelihatan gejala) untuk HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang, bisa tahunan, bahkan mencapai puluhan tahun. Sehingga tentu saja sangat disayangkan ketika baru diketahui setelah mencapai fase terminal AIDS sendiri. Aku ga begitu tahu pasti darimana sang pasien terinfeksi. Cuma ada petunjuk: si pasien memiliki tato yang banyak, dan selama beberapa tahun yang lalu bekerja sebagai driver di wilayah ibu kota. Sudah pisah dari istri sejak empat tahun yang lalu (mudah-mudahan istrinya ga kena infeksi...)

Sebagaimana jenis penyakit fatal lain yang bisa diramal usia hidupnya di dunia, tentulah dalam masa-masa menderita penyakit mematikan ini penderita dapat lebih berbuat yang lebih baik bagi dirinya dan orang lain. Bagi mereka yang merasa masa lalunya kelam (tidak semua penderita HIV adalah orang yang berlumuran dosa), sangat terbuka pintu taubat yang sebesar-besarnya. Sungguh "enak" sehali mereka itu... diberikan "peringatan" yang amat jelas oleh Sang Pencipta, agar bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum ajal menjelang...

Beruntunglah mereka..., yah..., beruntunglah mereka jika benar-benar paham ketika telah diberikan kesempatan emas itu, maka pergunakanlah kesempatan itu...

--- kutuliskan jurnal ini dalam keadaan bersedih.... tambah sedih melihat pola kampanye penanggulangan HIV/AIDS yang sering salah arah.... :-( so, mari bantu penderita AIDS menghadapi sisa hidupnya secara benar ---

Pic dari sini

Ini tips dari seorang ahli sumur. Cara ini khusus untuk menentukan kandungan zat besi dalam air tanah secara kualitas visual. Secara umum biasanya air tanah itu jernih, tapi ternyata kandungan logamnya berbeda-beda, termasuk kandungan zat besinya. Air yang banyak kandungan logam besi termasuk air yang tak layak konsumsi.

Coba perhatikan gambar di samping.
Kedua sampel air pada awalnya jernih semua, gelas sebelah kiri berisi air dari sumur tetangga, sedangkan gelas sebelah kanan kiri berisi air dari sumur tempatku. Mana yang mengandung zat besi dalam jumlah yang tinggi? Jelas pada gelas sebelah KIRI. Semakin pekat hitamnya semakin tinggi kandungan besi.

Bagaimana caranya? Sampel air tadi tinggal dituangin sedikit AIR TEH tawar, dalam sekejab kelihatan hasilnya.

Semoga berguna ;-)
------------------------------------
maaf...kesalahan tulis, yang kandungan besinya tinggi adalah air di gelas sebelah KIRI

Blog EntryTak mau menjadi kaya...Oct 16, '08 8:59 PM
for everyone
Sangat jarang kita menemui orang yang mengucapkan hal tersebut. Tapi orang itu aku temukan juga, yaitu seorang kolega di klinik universitas, tempat kerjaku yang lain. Jangan dibilang ia bukan "orang kaya", masyarakat di tempat tinggalnya saja menyebutnya sebagai tuan tanah, "O, Pak X ingkang duwe lemah katah niku..." (O, Pak X yang punya tanah banyak itu..."

Dia sudah punya titel haji, sudah hampir spesialis juga. Penampilannya sederhana aja. Ke kantor cuma naik motor butut, tapi begitu pemurah, klo ada yang sakit langsung ngomong: "kamu butuh apa?" Klo pas giliran dinas biasanya men(t)raktir semua karyawan yang ada. Nah, saat-saat makan itu kami sering menanyakan kok rajin men(t)raktir? "Ga pengen jadi orang kaya...", katanya. Pokoknya orangnya sama sekali ga pelit bin medit. Aku aja sempat ngiler lihat internet broadband mobile yang dia langgani pernah ditawari untuk nyoba dan dipersilakan bawa pulang...wah!! Ya, mungkin ada yang berpendapat: "Ah, beliau kan memang ga punya keluarga, jadi ga butuh uanglah..." (maksudnya ga punya istri dan anak, memang beliau ga menikah...) Tapi menurutku bukan itu yang utama.

Di kesempatan lain, dia ngomong yang sama: "Ga mau jadi orang kaya..." katanya. "Kenapa, Pak?", seorang perawat menanyakan. Aku langsung aja nyolot: "Ga tahan konsekuensinya ya, Pak?" Dia langsung ketawa: "Iya benar, orang kaya itu berat konsekuensinya, masuk surga aja paling belakang sendiri, karena harus ditanya macem-macem dulu..." Oooo, ternyata itu toh...

Andaikan banyak orang berfikir seperti beliau, mungkin ga banyak orang serakah yang akan merugikan orang banyak di bumi ini.

Pic dari sini

Blog EntryPNS lebih OK?Oct 14, '08 9:28 AM
for everyone
"Wah, bayi swasta nih, ya... ooo, moga besok anak kedua ya..." (maksudnya: klo udah anak kedua aku sudah kerja di instansi negeri), celetuk seorang bidan puskesmas yang menerima anakku untuk diimunisasi. Itu setelah aku bilang, aku kerjanya di RS swasta. Sebuah "guyonan" yang menjengkelkan!! Tapi kupikir untuk apa melayani hal "kecil" itu, biarin aja...

Istriku aja ga lebih kurang lagi jengkelnya dari aku. "Wah, anak swasta nih ye..." diulanginya kata tersebut ke Ifa, anak kami.

Ga begitu ngerti aku, apa sih maksud si bidan ngomong begitu. Apa ini karena pas musim CPNS? :-) sehingga bidannya punya kesan tersendiri terhadap PNS? entahlah...

Klo yang aku pikirkan sih, mungkin bidan itu mengira swasta itu ga elit, ga dapat tunjangan kesehatan anak, sehingga sampai imunisasi anak aja ke puskesmas, padahal kan di mana-mana yang namanya imunisasi dasar itu gratis. Bahkan klo mau sih tinggal aku suntik sendiri aja si Ifa (seperti yang aku lakukan waktu imunisasi HiB pertama). Sama istri sudah dijelaskan pengennya imunisasi di tempat yang dekat aja dari rumah.
Klo perkiraanku benar, bidan itu salah besar. Justru kerja di swasta itu jauh lebih enak, kerja lebih semangat, gaji jelas lebih besar, tunjangan kesehatan keluarga dan hari tua? alhamdulillah di tempatku bekerja menjamin itu semua.

Istriku nanggapi juga: "Ya, memang gitu pendapat masyarakat awam..."
Ah, udahlah...malas membahas lebih lanjut. Yang penting akunya memang dari dulu ga berminat jadi "antek" pemerintah kok... :-)

Blog EntryWARNING buat IBU pe-NGANDUNG anak PERTAMASep 11, '08 5:47 AM
for everyone
Akhirnya aku ketemu juga kasus yang aku takuti selama ini, kondisi gawat darurat yang amat susah ditangani selain dengan merujuk segera ke RS yang punya unit perawatan intensif (ICU). Yah, pasien tersebut akhirnya meninggal di ruang UGD, saat aku dinas Rabu malam  minggu lalu pukul 23.10 (cuma selisih 10 menit saat datang ke RS). Seorang ibu hamil 7 bulan usia 35 tahun (anak pertama) berpulang ke rahmatullahi karena menderita eklamsi. Beliau sudah lama kejang-kejang sejak dari rumah dan riwayat pemeriksaan antenatal (waktu hamil) tidak diketahui oleh keluarga yang mengantar. Tekanan darahnya waktu itu 220 per 80 milimeter air raksa, dengan badan dan kaki yang bengkak-bengkak. Padahal ambulans sudah siap mau mengantar ke RSUP Dr. Sardjito, ternyata takdirnya sudah tiba, harus meninggal sebelum sempat mendapatkan perawatan lanjut.

Aku setengah kesal dan "marah" sama keluarga yang mengantar (suaminya ga ada di tempat). Mereka tidak pernah tahu riwayat kehamilan sang ibu, periksa kemana, tensinya biasanya berapa, pernah bengkak-bengkak atau engga. Ya, sudah akhirnya aku dengan antara menahan haru dan emosi kesal, menginformasikan ke keluarganya. "Mohon lain waktu, kalau ada yang hamil tekanan darahnya dipantau ya..., kontrol rutin di bidan atau puskesmas ya..." Keluarga bingung, kenapa bisa terjadi demikian dengan sang ibu. Aku informasikan bahwa sang ibu menderita "keracunan" kehamilan. Begini jadinya kalau tidak kontrol rutin ke bidan atau puskesmas. Datang-datang sudah dalam keadaan sangat gawat.

Jadi mohon kepada ibu-ibu di MP yang sedang hamil (terutama anak pertama) mohon waspada dengan tekanan darahnya, selain itu dianjurkan untuk tes air kencingnya. Semoga diberikan kelancaran dalam kehamilan dan ketika melahirkan. Amiin...

Gambar dari sini

Sebenarnya aku malas memperbesar (sebenarnya sudah sangat besar) masalah-masalah kesalahan pemerintah (emang sukanya cuma memerintah) negeri ini. Tapi, aku kayaknya HARUS secara udah terlalu penuh nih kepala dengan berbagai hal tidak beres di sekitar kehidupan kita.

Jelas, aku senewen, secara sejak nikah aku kan pake LPG, padahal ortuku sendiri sampai sekarang masih pake minyak tanah, mbahku pake minyak tanah juga. Pake LPG bukan karena ngegaya, tapi memang lebih banyak kelebihannya, kalau dikonversi ke rupiah malah jadi lebih hemat, buktinya saja untuk satu tabung gas LPG bisa bertahan sampai 2-3 bulan, padahal sering dipake buat masak air buat mandi (aku ga punya water heater canggih... ). Ealah, dengar kemarin pas istri mbayar LPG-nya yang habis kok jadi 63 ribu, bahkan katanya udah 69 ribu ya?

Sebenarnya aku masih sangat bersyukur masih bisa membeli LPG tersebut, tapi ga kebayang dengan mereka yang memang sangat tergantung penuh dengan LPG seperti para pedagang kecil itu kan pada pake LPG juga, wah, pasti nanti harga barang dagangnya jadi naik juga, WEEKSS!! berarti kan aku kena imbas juga, mummettttss!!!

Cuma aku sempat terpikir, kok alasan kenaikan LPG ini kok atas alasan menyesuaikan dengan harga gas dunia, gimana logikanya itu? Pemerintah membunuh rakyatnya sendiri secara perlahan. Penghasilan hidup tidak jauh bertambah, malah harga menggila, sudah itu kita pada meronta, tapi apa daya, ternyata pemerintah juga tak peka (malah jadi bersajak gini...)

Katanya untuk menutupi bisnis PERTAMINA yang merugi (dengan mengorbankan rakyat). Setahuku tidak ada pegawai PERTAMINA yang melarat, bahkan cenderung berfoya-foya, aku lihat sendiri rumah mereka luar biasa besarnya, kayak rumah setan (kata istriku loh...)

PERTAMINA memang memonopoli kekayaaan alam untuk digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bersama (seperti bunyi pasal di UUD 45 kan??). Nah, bersama ini jelas untuk kepentingan teman-temannya saja kan. Contoh teman-temannya ini misalnya para penjabat dengan mobil mewahnya yang menghabiskan banyak BBM ga jelas juntrungannya untuk plesir, ngebut-ngebut di jalan pake dikawal polisi, buat kencan sama WIL-nya. Bahkan polisi sendiri kan dapat BBM gratis ya dari PERTAMINA? kata PERTAMINA sih, polisi dan angkatan berhutang harga BBM juga kepada mereka, pantas aja polisi jadi ikut kejar setoran juga, gilaaa....

Apa iya pemerintah kita ini terpengaruh dengan kampanye global warming itu??
Dengan memahalkan harga BB fosil diharapkan rakyat tidak terlalu banyak melakukan pembakaran yang tidak perlu, mahal sih... Ya udah kalo gitu kita mari kembali ke alam. Alam mana nih....? Ah, udahlah.... semoga dosa pemerintah diberikan balasan yang setimpal. Untuk para aleg maupun caleg maupun calon pejabat yang masih punya nurani, ini semua menjadi PR besar untuk memperbaiki negara salah urus ini. Ayo, kita-kita hanya bisa mendukung, jangan sampai GOLPUT deh, kalo tidak jelas kita akan tambah dijajah oleh pemerintah kita sendiri yang otaknya ga tahu dipake untuk apa.... PARAAAAH.....

Pic dari sini

Blog EntryHari ini aku ulang tanggal ya?Aug 13, '08 4:16 AM
for everyone
Hahaha...iya...ya harusnya yang benar kan Ulang Tanggal bukan Ulang Tahun yah? untung diingatkan sama Pak Gogod. Udah dari beberapa minggu lalu aku ingat mau ulang tanggal ini. Tapi ya, seperti tahun-tahun lalu, biasa aja, angin lewat...apalagi sekarang lagi banyak yang mau dipikir dan kebetulan lumayan bokek nih (ada sebabnya sih...) Jadi mohon maaf tidak ada traktiran, hahaha....

Trimakasih buat teman-teman Mp yang udah mendoakan via PM atau nyelip via reply-an :-) terlebih lagi buat Pak Yo, yang udah rela sms aku (sampai ingat gitu Pak), nagih traktiran, hahaha...

BTW, di hari ulang tanggal ini aku juga punya harapan dalam hati, aku bocorin nih: pengen bisa lebih baik lagi, maksudnya pribadiku, ya syukur-syukur klo penghasilan makin meningkat, secara masih banyak utang nih...hahaha...

Klo nagih traktiran, itu tuh silakan dicicipi tarnya...
-----------------------------------
Kue tart dipesan dari sini :-)

Blog EntryKalah njago bupati jadi edan?Aug 7, '08 9:43 PM
for everyone

Parah benar wajah endonesa sekarang ya, maksudnya manusia-manusianya itu loh, terutama mereka yang amat bernafsu dengan jabatan. Walaupun aku juga orang endonesa tapi kok ya miris ya, apalagi lihat berita pagi ini di salah satu TV tentang dampak kekalahan pilkada. Seorang calon bupati yang kalah njago, jadi setengah edan. Dia udah ngeluarin duit 2 milyar lebih, digugat cerai sama istrinya, walaaahh...apa jadinya kalo dia jadi berkuasa ya? sepertinya memang sudah tabi'at manusia haus akan kekuasaan, haus akan prestise jabatan. Tidak sadar bahwa itu adalah hanyalah sebuah titipan bahkan sebuah amanah atau kepercayaan yang amat berat untuk melayani masyarakat, bukan agar dilayani.

Punya pengalaman juga ketemu pasien kayak gini, cuma skalanya lebih kecil, seorang mantan kepala desa yang anaknya ikut njago jadi kepala desa juga. Si bapak sampai masuk ke rumahsakitku karena serangan stroke saat pulang coblosan. Untung saja anaknya menang kalo engga??! mungkin udah bablas nyawanya ke akherat, innalillahi...

Jadi, mungkin wajar kali ya, kalo calon pejabat kelas teri saja bisa begitu, apalagi bila calon pejabat kelas kakap kalah njago, bila tidak mempunyai sikap mental yang baik, pasti bakal jadi gila dan kepalanya bisa meledak seketika...

Aku yakin endonesa ini tidak akan pernah beres kalo setiap orang yang njago jadi pemimpin hanya semata-mata untuk prestise, kehormatan (seperti yang dikatakan oleh salah satu pelawak yang sekarang jadi politisi senayan dan ikut njago pilkada juga). Siapa yang ga bangga kalo jadi pemimpin? ya Allah, untuk apa bangga ya, kalo cuma nanti untuk kepentingan perut dan keluarga sendiri??!

Aku yakin endonesa ini punya harapan besar untuk memperbaiki dirinya, memperbaiki manusia-manusianya. Apalagi dalam suasana menuju pemilu 2009 sembilan ini, mestinya kita bisa berpikir cerdas dan tidak semata-mata menentukan pilihan asal emosi semata, apalagi menjadi golput, sperti orang yang putus asa dan sudah apatis menjadi bangsa endonesa.

Smoga endonesa makin baik ya...
--------------------------------------------------
Pic dari sini

Blog EntryAkhirnya bisa Ngempi lagi :-)Jul 22, '08 5:01 AM
for everyone
Senang banget udah bisa online lagi, barusan minggu kemaren dapat acc langganan internet mobile. Jadi bisa online terus nih  cuma.... secara udah lumayan lama puasa internet, jadi rada "buas" make bandwidth-nya .

Mudah-mudahan bisa lebih produktif dan meningkat multitaskingnya...

Pic: lagi melototin monitor saat online

Blog EntryDambaan hati itu telah lahir...Jun 18, '08 9:42 PM
for everyone
Alhamdulillah, tlah lahir normal puteri pertama kami, Senin 16 06 08 pkl.01.23 di RSIY Kalasan Sleman, BB 2650 g, P 48 cm. Mhn doa agar jadi anak shalih (Dodo & Iin)

Begitu pesan singkat yang aku kirimkan ke sebagian besar nomor kontak di phonebook HP-ku. Terus terang ga sabar ketika harus menunggu subuh untuk menyampaikan berita gembira ini. Banyak balasan diiringi doa-doa berharga bahkan dari mereka yang tak menerima sms-ku karena kebetulan tidak terdaftar di phonebook. Terima kasih atas semua dukungan dan doa yang diberikan kepada kami selama ini… semoga mendapatkan balasan yang lebih baik dari Allah.

Ingin kilas balik sejenak, mengenang detik-detik kelahiran sang buah hati…

Istri mulai mengeluarkan lendir darah pada Jumat, 13 Juni 2008, Hari Perkiraan Lahir (HPL) bayi jatuh pada Hari Ahad 15 Juni 2008. Mules-mulesnya sih belum, tapi khawatir aja… makanya langsung aku bawa ke rumahsakit tempat biasanya istri ANC (antenatal care=perawatan sebelum lahir). Di periksa di UGD, ternyata mulut rahimnya masih pembukaan 1 cm. Ditawarkan nginap sih, tapi istri lebih nyaman di rumah kata, ya udah… kita pulang lagi ke rumah.

Sabtu udah mulai mules-mules, tapi kontraksi rahim belum teratur dan masih lemah. Aku sarankan untuk relaksasi saja, istri merasa lebih nyaman kalau tiduran sambil duduk di kursi. Ahad sore udah mulai meningkat lagi kontraksinya, sampai mengaduh-aduh, aku hitung lama dan interval antar kontraksi juga belum teratur. Ga tega juga lihat istri, tapi ya aku berusaha memberikan saran dengan teori-teori yang aku ketahui. Pas aku lagi dinas jaga, sepertinya sudah lebih parah sakitnya. Memang sih istri sendirian di rumah, kasihan juga kan, ga ada tempat berkeluh kesah  yaa, risiko kalau udah gini, keluarga jauh semua dan waktunya pada belum bisa. Kebetulan kakak ipar bisa datang dengan satu bibi yang akan membantu, tapi baru bisa nyampe sekitar waktu maghrib. Melalui telepon aku saranin istri melakukan posisi seperti sujud, menumpu pada kedua lutut dan lengan, sambil dibuka lebar antar lengan dan pahanya. Aku minta lakukan selama 30 menit, alhamdulillah bisa berkurang sakitnya. Pukul 21 aku selesai dinas, langsung cabut ke rumah, belum sampe rumah udah ditelepon istri: bisa pesan taksi sekarang ga? Posisi di mana? Aku katakan sedikit lagi nyampe rumah… kebetulan sebelum pulang dinas aku beli gel pelumas dan sarung tangan untuk periksa dalam, memantau sejauh mana pembukaan mulut rahim istri. Kebetulan kakak ipar juga udah nyampe dan membawa pesananku: Doppler (alat untuk mengetahui dan menghitung denyut jantung janin) dan stetoskop janin. Langsung aja aku cek denyut jantung calon bayi kami, Alhamdulillah masih normal berkisar 140-an kali permenit. Terus aku periksa dalam. Wah…ternyata sudah pembukaan 4-5 cm. Tanpa pikir panjang (belum sempat ganti baju, apalagi mandi… hehehe) aku langsung cari taksi, untung ada pangkalan taksi di Hotel Hyatt, dan dekat dari rumah. Sekitar pukul 22.30 kami nyampe di rumahsakit. Langsung masuk ruang observasi persalinan (VK). Diperiksa sama bidan, eh… udah pembukaan 6 cm. Ga tega banget lihat istri kesakitan gitu, sampai bergetar badannya menahan sakit, tapi istriku ga teriak-teriak, cuma ekspresinya menggambarkan kesakitan sekali. Ya, aku sambil menemani istri dikabari kalau dokter kandungannya sebentar lagi datang (sekitar 1 jam, dengan perkiraan sudah pembukaan lengkap). Sekitar pukul 00, Senin 16 Juni 2008 sudah lengkap pembukaannya. Istri kemudian dipimpin oleh dokter untuk mengejan. Bu dokternya memintaku membantunya, walah… padahal mau mendokumentasikan keluarnya sang jabang bayi, hehehe… ya udah pake sarung tangan dan langsung ikut turun tangan. Lumayan lama mengejan, berulang kali, sekali-sekali istri diberi minum dan dipompa semangatnya. Alhamdulillah pukul 01.23, bayi kami lahir. Sesuai hasil USG, jenis kelaminnya perempuan, mungil banget, beratnya 2650 gram (kalau dari USG terakhir: 2900 gram, tapi masih BBLC (Berat Bayi Lahir Cukup) kok… ternyata plasentanya juga kecil, jadi wajar saja penyaluran nutrisi dari ibu ke bayi juga sedikit…

OK, sekarang cerita dikit tentang bayinya ya. Subhanallahu, aku sampai sekarang masih merasa takjub punya bayi yang mungil dan cantik begini…hhhhh….gemes…tapi rada-rada khawatir waktu pertama kali menimangnya. Maklumlah… baru jadi bapak baru sih… J. Kalo aku perhatikan sih rada-rada mirip aku gitu… hahaha… ya iyalah…

Selasa sore setelah imunisasi BCG (waktu lahir langsung diimunisasi Hepatitis B), kami pulang dari rumahsakit, wah… tetap lebih enak di rumah, si bayi lebih tenang kayaknya. Kata orang repot kalau bayi masih baru gigi, memang sih, tapi kan semua itu hilang dengan rasa bahagia yang amat sangat…

Walau ga cuti kerja aku sempatkan sebisaku membantu mengasuh si bayi mungil kami, sudah mulai diperkenalkan ke tetangga, dijemur, minumin susu. Yah, si bayi akhirnya “dipaksa” minum formula (ini juga berdasarkan petunjuk dokter anaknya), karena ibunya belum juga bisa mengeluarkan ASI secara adekuat (kolostrum udah keluar, tapi mandek lagi…). Sayang ga dapat asupan energi kalau cuma diminumin air putih saja. Ya, mau gimana lagi. Tapi aku motivasi terus istri untuk tetap meneteki bayi untuk lebih menstimulasi produksi ASI, selain itu juga diberi obat perangsang produksi ASI. Hari pertama kelahiran si bayi aku tahnik-kan (salah satu sunnah nabi) dengan madu (ga sempat cari kurma). Mengganti popok juga udah, kalau memandikan belum sih… hehehe, maklumlah masih berbagi tugas.

Kalo ditanya siapa namanya, wah…nunggu aqiqahnya saja ya…masih dicari-cari nih yang cocok dan tentu saja baik bagi si bayi lah… ditunggu ya. “Ya rabb kami, jadikanlah bayi kami menjadi penyejuk mata bagi kami dalam mengarungi kehidupan dunia ini dan menjadi penambah pahala kami di akhirat nanti… serta jadikan ia orang yang berguna bagi umat manusia… amiiin ya rabbal ‘aalamiin…”

Foto-foto selengkapnya (klik aja)

Blog EntryAntara MedRep, Dokter, dan MLM-ersMay 1, '08 9:24 PM
for everyone
Maaf, ini bukan dimasudkan untuk menyinggung, tapi klo ada yang tersinggung...ya maaf

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dokter yang menjalankan praktiknya (karena ada juga dokter yang ga praktik) selalu berurusan dengan obat. Nah, obat-obat ini (apalagi di Indonesia) banyak banget jenisnya, istilah kerennya sediaan spesialistisnya bejibun. Untuk obat dengan komposisi Parasetamol saja (penurun panas) ada ratusan merek dagang. Tentu saja dengan variasi harga yang berbeda. Aku memang tidak membantah kalau ada yang mengatakan, secara praktis ternyata sediaan spesilistis ini berbeda khasiatnya dibanding generik, walaupun di iklan TV dulu digembargemborkan mengenai khasiat obat generik sama aja dengan obat bermerek.

Tapi bukan masalah khasiat yang akan aku bicarakan tetapi lebih kepada strategi promosi dan penjualan obat-obat spesialistis (non-generik) tersebut.

Menurutku dokter memang sulit terlepas sebagai target promosi oleh medical representative (MedRep, mirip dengan SPG-lah = sales promotion girl). Karena dokter (maupun apoteker) merupakan ujung tombak penjualan obat dari pabrik pembuatnya. Namun, yang amat disayangkan ialah, persaingan kuat antar pabrik obat membuat para MedRep cukup dibuat pusing, mereka diberi target oleh perusahaan untuk "mengumpulkan" tandatangan para dokter. Nah, yang paling susah, ketika sang MedRep ga "kuat" alias ga sabaran ketika bertemu dokter yang idealis atau sangat susah ditemui karena sibuk, padahal deadline pengumpulan daftar tandatangan sudah di depan mata. Jadilah sering ada tandatangan dokter yang dipalsukan. Selain itu, para MedRep ini juga terkadang (tidak semua), terutama MedRep perempuan, memberikan bonus berupa dirinya, mulai dari senyum manisnya bahkan bisa sampai seperti yang dilakukan oleh lady escort (pada tahu kan...??)

Aku tidak menyalahkan apa yang MedRep lakukan. Semuanya berpulang ke pada si dokter sendiri, kalau dia kuat iman tidak akan tergoda dengan berbagai cara yang sudah di luar batas itu.

Beberapa waktu lalu aku sempat dicurhati adik kelas yang masih koas (mahasiswa profesi dokter), tentang seorang guru kami, staf sebuah RS terkenal, yang dengan santainya mengatakan: "Kalau tidak karena obat-obat itu (atau kalau tidak karena MedRep dan pabriknya), mana mungkin saya dan keluarga bisa jalan-jalan ke luar negeri? So, jangan anggap remeh obat obat itu!"

Dulu pun ketika aku masih koas, banyak sekali "guyonan" tentang gimmick (baca: strategi/muslihat bonus) oleh pabrik obat ini. Ada staf pengajar ditempatku yang ngomong sambil tertawa: "Dik, tahu ga..klakson mobil saya itu bunyinya C**do..C**do" (bukan tin..tin atau tet..tet..). Yang di maksud itu ialah nama sebuah pabrik obat yang memberikan bonus mobil karena si dokter dianggap mampu mencapai target peresepan obat. Yah, target peresepan!, kuncinya di sini. Sehingga menurutku tidak masalah ketika MedRep tidak memberi target peresepan tertentu kepada sang dokter ketika mempromosikan obatnya, misalnya begini: Dok, kalau dokter bisa meresepkan obat kami yang ini, sejumlah batas minimal 100 tablet per minggu, maka nanti dokter dapat bonus kunci mobil...langsung di depan" (maksudnya sih sudah bisa langsung dipake mobilnya). Selain itu aku juga melihat langsung (waktu masih koas juga) pasien yang ditawari sebuah alat kesehatan untuk mengeluarkan cairan dari rongga dadanya. Setelah aku usut, ternyata alat itu dijual oleh seorang dokter bedah senior.

Dari teori yang pernah aku ketahui, ini disebut sebagai Supply Induce Demand, sayang sekali sang konsumen atau pasien buta sama sekali terhadap tindakan, obat, dan alat kesehatan yang ditawarkan kepadanya. Pasien dan keluarganya kalau sudah sakit prinsip utamanya ialah: yang penting sembuh. Bahkan sang dokter justru nakut-nakutin kalau ga pake obat (merek ini) si pasien ga bakalan sembuh. Jadi enak banget toh jadi dokter yang bermental pedagang, hehehe...maksudnya dagang obat kepada pasien.

Wah, serunya lagi kalau sang dokter juga ikut jadi penyemarak dunia MLM (Multi Level Marketing) seperti Ti***hi, K-**nk, dll. Pasti cepat kaya tuh dokter. Kan apa kata dokter dianggap sebagai "sabda dewa penyelamat".

OK, kembali ke awal tentang dokter yang main mata dengan pabrik obat melalui MedRep-nya. Beberapa waktu lalu, aku sempat didatangi MedRep juga, dia promosi tentang obatnya dengan diakhiri kata-kata seperti biasanya: "mohon dibantu peresepannya buat pasien dokter..." Seperti biasa aku bilang: OK, pasti saya bantu, yang penting obat lebih murah dan cespleng. Iseng juga aku tanya ke MedRep tersebut. "Pabrik obatnya sering menyelenggarakan seminar kedokteran ga?" "Wah, kalau kita belum pernah kok dok..., tapi dokter ada rencana mau ikut seminar? nanti kita bayarin..." Nah..nah.. "OK, boleh ya? ada umpan balik ga kalau saya dibiayai ikut seminar? (si MedRep kayaknya langsung paham). O, engga kok dok, kita ga nargetin apa-apa, silakan kontak saya aja kalau dokter butuh dibiayai ikut seminar...". "Baik, terima kasih..."

Terus-terang teman-teman...inilah lingkaran syetan yang tersulit untuk dibasmi, kalau dokternya masih waras seperti aku (hehehe...) pasien insya Allah tidak akan terzalimi atau tertipu. Asal si dokter berorientasi kepada kepuasan dan membela hak pasien pasti hal tersebut bisa diminimalisasi.

Terus terang lagi, kondisi yang sulit tetap dialami dokter seperti (ini asumsi kalau dokternya masih waras):
  • Kerja di RS, dan belum hapal harga obat (jadi harus bolak-balik tanya harga ke bagian farmasi/apotek). Pernah aku kebobolan obatnya terlalu mahal, sampai si keluarga pasien nanya lagi berapa harga obatnya, ketika mau aku tambah obat lagi (karena indikasi lain)
  • Kerja di apotek/klinik, apalagi yang waralaba, dijamin kantong pasien sering kebobolan. Apalagi bos apotek menyaratkan nilai nominal tertentu seperti yang dialami oleh banyak rekan sejawatku ketika kerja di klinik 24 jam. Pokoknya harga obat yang diresepin minimal harus (katakan saja) 20 ribu, kalau kurang dari itu, yah...harus ditambah apa gitu (misal: vitamin, atau merek obatnya diganti dengan yang lebih mahal) agar plafon harga terendah dapat tercapai. Apotek/klinik untung, dokter pusing kepalanya (karena harus tetap bertahan di tempat kerja tersebut), pasien bobol kantongnya...

Posisi kerja yang ideal sebagai dokter menurutku ialah seperti di tempat kerjaku yang lain yaitu di klinik mahasiswa yang dibiayai dengan premi asuransi. Jadi pasien ga peduli apa sakitnya, dia akan dapatkan obat (bahkan obat terbaik sekali pun) tanpa perlu takut dengan harganya. Dokter senang melayani (karena gajinya juga bisa tinggi), pabrik obat juga senang karena obatnya laku keras.

Berikut tips supaya tidak dibobolin kantongnya:
  • Bilang ke dokter diresepin obat generiknya aja (kadang dokter jarang menawarkan resep generik. Atau kalau memang tidak ada obat generiknya mohon dicarikan dengan harga termurah tapi berkualitas (untuk hal ini si dokter akan melihat daftar harga obat atau menanyakan ke pihak apotek). Kadang pun kalau sudah diresepin generik, sering juga apoteknya main nakal, obatnya diganti dengan yang mahal.
  • Selalulah minta second opinion ke dokter lain, atau baca-baca literatur, jika diberikan obat tertentu, apakah sudah sesuai baik indikasi maupun harganya.
  • Kalau dokternya sampai ngomong: "kalau tidak pakai obat merek ini tidak akan sembuh", atau si dokter tidak mau melayani lebih lanjut..., saranku: minta dirawat dokter lain, pindah ke dokter praktik lain atau apoteklainnya. Tapi kalau ternyata kasusnya kita tidak bisa memilih karena (misal): ternyata cuma ada si dokter tersebut di tempat itu, atau apotek lain jauuuh, yah...sudahlah terimalah nasib itu, berdoalah agar situasi tersebut cepat berubah 
Gambar dari sini

Blog EntryKetika kita harus membeli obat...May 1, '08 9:09 PM
for everyone
Hati-hati ketika teman-teman harus membeli obat ke apotek. Apalagi apotek dengan sistem franchise. Tak terkecuali membeli obat dengan resep dokter sekalipun. Prinsip bisnis dalam penjualan obat sangat kentara, ini sudah sering aku survei secara kecil-kecilan. Coba aja tanya ke salah satu apotik (pilih apotek besar) apakah ada obat X, ketika dijawab tidak ada, biasanya CS (customer service) menawarkan obat lain yang diklaim lebih baik dan jelas lebih mahal harganya.

Cerita singkat pasienku berikut mungkin bisa menjadi pembanding,

Cerita I: seorang CS salah satu apotek waralaba terkenal. Dia cerita kalau obat-obat yang diberi oleh dokter di tempat dia bekerja tidak manjur dan mahal pula. Ini terjadi berulang kali ketika dia sakit. Aku sih ga tahu juga apa memang karena obatnya atau karena sugesti aja. Yang jelas ketika berobat ketempatku dia mengakui obatnya jauh lebih murah dan manjur.

Cerita II: seorang pasienku yang datang diberi salep Acyclovir, CS apotek mengatakan dia terkena herpes (ini akan aku bahas saja di lain jurnal, kayaknya penting banget...). Setelah aku periksa ternyata itu bukan herpes, maka tentu saja salep itu tidak berefek.

Cerita III: seorang pasien kakek-kakek beli obat batuk, diberi obat batuk merek terkenal dengan kandungan antitusif/penghenti batuk. Padahal si kakek batuk berdahak. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Si kakek malah sesak napas karena dahaknya tidak bisa keluar. Terlebih lagi si kakek ternyata sebelumnya sudah mengkonsumsi obat batuk juga yang ternyata isinya sama-sama antitusif, jadilah dia overdosis. Menurutku ini juga kesalahan si petugas apotek saat konsumen membeli obat, tidak diterangkan dengan baik untuk apa obat itu dan berapa dosisnya.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari fragmen-fragmen singkat di atas?
Gini aja deh saranku:
  • Boleh saja langsung ke apotek, dengan syarat memang sebelumnnya sudah pernah mendapatkan resep obat yang sama, alias memang sudah ada rekomendasi dari dokter untuk meneruskan obat tersebut
  • Jangan sekali-kali mau menerima vonis diagnosis penyakit dari petugas apotek, mereka bukanlah penentu apa sakit kita
  • Jangan mau disuruh ganti obat kecuali setelah berkonsultasi dengan dokter atau apoteker yang dapat dipercaya
  • Baca baik-baik aturan pakai obat, kalau tidak mengerti tanyakan dokter atau apoteker
  • Efek obat tidak bisa dipukul rata untuk semua orang. Obat tertentu cocok buat seseorang tapi belum tentu cocok untuk orang lain. Kadang faktor sugesti juga berpengaruh besar. Ini aku alami sendiri ketika menangani pasien sesak napas. Si ibu udah hapal dengan obat yang biasa dia pakai ketika sesak. Dan saat itu dia juga mendikteku untuk memberinya obat tersebut, tapi aku kira dia saat itu cuma histeria (sakit secara psikis). Jadi aku beri aja vitamin B, dan sembuh.
Gambar dari sini

Blog EntryCerita hamil istrikuApr 25, '08 12:36 AM
for everyone
Karena belum sempat cerita-cerita tentang kehamilan istri seperti yang direncanakan, akhirnya aku rangkum saja semuanya dalam satu tulisan ini. Semoga dapat diambil manfaatnya.

Yah, istri hamil...tentu saja sangat menggembirakan sang suami. Apalagi bagi diriku yang lumayan lama menunggu diberi calon pewaris tahta (hehehe...). 2 tahun 2 bulan aku kira penungguan yang cukup lama sejak pernikahan kami pertengahan 2005 lalu. Di sinilah kami senantiasa bersyukur bahwa memang semuanya sudah diatur Sang Pemberi Rizki. Tapi memang terus terang aku tidak terlalu intensif memperhatikan proses kehamilan istri secara dia semakin sering kutinggal karena urusan kerja dan aktivitas yang cukup padat... Sering juga peningkatan emosi saat hamil dan perasaan supaya lebih minta diperhatikan hadir secara mendadak, jadi memang agak repot sih, tapi tetap menyenangkan lah. Berhubung ini juga calon cucu pertama dari pihak mertua dan calon cucu kedua dari ortuku, jadi terkesan memang harus ekstra hati-hati memelihara kehamilannya. Kadang-kadang kok aku seperti ”berempati” seolah-olah ikut hamil, kalo perut istri sakit, aku ikut mules gitu... aneh...

Alhamdulillah, keluhan selama kehamilan istri tidak terlalu ”menakutkan” seperti ngidam, muntah, jungkir balik, dll...ya paling nyeri-nyeri dikit di perut bawah, kata dokter kandungan akibat penambahan beban saja. Walau pun ga ngidam tapi kalo diajak makan ke luar selalu ga menolak, mintanya sih macam-macam...hehehe, tapi bukan ngidam kok... ?

Kalo ditanya kontrol hamilnya kemana aja, wah jelas kami tidak pernah setia sama satu tempat saja alias berpindah-pindah. Soalnya sering ga puas kalau periksa. Selama hamil pernah diperiksa di dokter kandungan di Purwokerto, pas istri lagi ngurus tes PNS-nya. Mahal banget obatnya, waktu itu sih memang aku suruh segera periksa karena terjadi pengeluaran bercak kemerahan. Di USG ternyata ga apa-apa. Di beri vitamin dan penguat kehamilan. Kali kedua periksa di dokter kandungan cewek di kliniknya yang cukup terkenal di Jogja. Waduh, dokternya ga komunikatif, periksanya  mahal, kapok! Terus akhirnya aku bawa istri ke RS Ghrasia Pakem (ini dulu rumah sakit khusus rehabilitasi penderita gangguan jiwa, katanya di situ ada USG 4 dimensi. Itu loh USG yang memadukan gambar tiga dimensi dalam bentuk video. Wah, hebat, murah banget! Mungkin masih promosi kali ya, cuma habis sekitar 80 ribu. Itu udah plus CD-ROM buat ngopy file USG-nya. Memang sih yang memeriksa bukan dokter kandungan tapi dokter penyakit dalam, tapi ga masalah lah, dia juga mengerti kok, pelayanannya juga enak, komunikatif! Kalau melihat video USG 4D ini, kami bisa senyum-senyum sendiri, soalnya kelihatan banget si bayi lagi ngapain, kadang cemberut, kadang tersenyum, kadang menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, hahaha…very excited (kalo teman-teman mau lihat boleh buka di menu video)

Terakhir aku periksakan istri ditempat kerjaku sendiri, nah, di sini lebih enak lagi, gratis tisss... hehehe... Rencana kontrol berikutnya di sana aja ah... rencana melahirkan juga sekalian ah..., kan bisa menghemat gitu. O, iya sekarang umur kehamilan istriku 32 minggu atau 8 bulan. HPL atau hari perkiraan lahir 15 Juni 2008. Jenis kelamin calon bayi kami ”dipastikan” perempuan melalui USG 2 dimesi pada pemeriksaan terkhir kemarin. Doa kan ya semoga semuanya dimudahkan.



Blog EntryApa kabar...?Apr 12, '08 10:40 PM
for everyone
Luaaaamaaa banget ga buka-buka MP and interaksi dengan MPers sekalian, jujur ajah, aku kangen berat ama kalian  Apalagi sempat dengar kabar MP di blok yah, walau cuma sebentar. Teman-teman, mohon maaf  yah, kalau udah lama ga online (kadang sih online, tapi cuma skedar ngintip...ga bisa lama-lama). Sekarang aku lagi fakir internet. Jadi kalau nge-net harus dibela-belain ke warnet, atau nebeng di tempat tertentu 

Banyak banget tulisan yang tertunda untuk diupload...
Sekalian aku mau tanya, terutama teman-teman yang di Jogja: enaknya ikut ISP apa yah untuk langganan internet yang di rumah atau mobile tapi budgetnya ga mencekik leher and kantong? Kemarin sempat baca rubrik konsultasi, ada tarif internet per bulan 200 ribu, pake sepuasnya, adakah???

Salam kangen buat teman-teman MP....

Pages:123
© 2009 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Contact · Help